Apakah pendaki selama di gunung tidak pernah mandi? Ini jawabannya!

Mendaki gunung adalah suatu kegiatan outdoor yang penuh dengan tantangan, mulai dari fisik hingga mental terkuras dalam kondisi tertentu. Namun dewasa ini dengan segala perkembangan jaman dan kemudahan dalam mencari informasi, gunung justru menjadi tempat wisata bagi orang-orang yang ingin menikmati sunyinya alam. Mulai dari orang tua sampai anak kecil, gunung yang tidak begitu tinggi hingga yang tertinggi sekalipun.

Setiap gunung tentu saja memiliki karakternya masing-masing. Ada yang agak landai tapi jauuh, ada yang curam (tapi jauh juga) hehe. Ada yang terdapat sumber air, ada pula yang tidak. Setelah sekiranya kita mencari informasi tersebut, kita dapat mengatahui berapa estimasi waktu perjalanan untuk mendaki di suatu gunung.

Nah…yang sering jadi pertanyaan adalah jika memerlukan beberapa hari pendakian, apakah pendaki tidak pernah mandi? . Mungkin banyak yang penasaran tentang hal ini, terutama untuk kalian yang mungkin belum pernah mendaki atau hanya mendaki tektok ke gunung yang tidak begitu tinggi.

Jika kamu menebak bahwa pedaki tidak pernah mandi, selamat jawaban kamu tidak meleset. Eiitss sabar duluu, tidak mandi bukan berarti males-malesan kek kaum rebahan yaa..hehe . Tentu saja ada alasannya kok. Berikut ini beberapa alasan kenapa pendaki tidak pernah mandi sesuai pengalaman pribadi tentunya.

  • Dingin
dinginnya gunung
blog.firmandwi.com
firmandwi.com
Foto oleh Lum3n dari Pexels

Ketinggian suatu tempat berbanding terbalik dengan temperaturnya. Semakin tinggi dataran atau tempat, semakin rendah pula temperatur udaranya. Persis seperti di pegunungan dan di pesisir. Kalau kita main atau mungkin tinggal di pesisir pantai, hawa nya tu pengen mandiii aja. Tapi kalau di daerah gunung jangankan mandi, kaki kena air aja menggigil semua ni badan. (Note : saya cerita dari sudut pandang bukan orang gunung maupun orang pesisir ya).

Itu baru di daerah gunung, nah kalau dah di atas gunung lebih dingin lagi cuy.. Bisa bayangkan jika mandi di gunung yang airnya dinginnya menusuk tulang. Bisa ketusuk semua tulang ini kalau mandi. Meski udara panas saat siang, tapi air tetep aja dingin lho (kecuali sumber air panas). Yang saya maksud sumber air ya, bukan danau atau sejenisnya.

  • Badan gak bau
Foto oleh Pixabay dari Pexels

Untuk poin ini masih relevan dengan poin pertama, yaitu suhu. Pada dasarnya ketika kita melakukan pendakian dengan suhu rata-rata yang rendah, tubuh tidak mengeluarkan aroma yang tidak sedap walaupun mengeluarkan keringat saat tracking siang hari. Saya tidak tahu apa hanya perasaan saya saja.Tapi kenyataannya memang begitu. Dan mungkin teman-teman setenda juga tidak pernah ada obrolan “kok badan kamu bau?” . Mungkin sudah menyatu dengan alam kali ya.. hmm

Atau kalau kamu pernah mencium aroma badan teman saat mendaki, berarti aroma keringat temanmu yang menyengat itu sudah berada di level tertinggi. Bayangin aja, di gunung aja bau apalagi di bawah. hahaha

Yang ada tuh ya, wangi dan wangi banget. Apalagi kalau mendaki bareng temen cewek yang bawaan skincare dan pernak-pernik make up nya lebih banyak daripada bawa makanannya, bisa-bisa satu poscamp ketularan semua tuh wanginya. Eh kok jadi curhat ya..

Pada intinya adalah kalau gak mandi aja gak bau, kenapa harus mandi? hahaha

  • Sumber air
Foto oleh Taryn Elliott dari Pexels

Hal lainnya yang menjadi penyebab pendaki jarang bangeeet  (gak pernah) mandi yaitu sumber air. Boro-boro buat mandi, buat ngisi air ke botol aja nunggu tetes demi tetes. 😅 Itu pun kalau ada sumber air ya, di beberapa gunung atau jalur pendakian bahkan ada yang tidak terdapat sumber air jadi harus siap-siap ngangsu dari bawah. Kalau danau seperti Ranu kumbolo, Segara anak, dll setahu saya sih gak boleh ya buat mandi, meski ada aja orang yang melanggar. Ini pentingnya cari informasi sebelum mendaki.

Misalnya saja kita ambil air di sumber air yang jauh dari camp, antre nya se RW, nunggu tetes demi tetes dan lamaa banget, trus tanpa dosa tiba-tiba temenmu ambil buat cuci muka pakai acne control brightening facial foam biar mukanya cerah katanya. Sungguh, momen-momen seperti inilah kesabaranmu akan teruji. Berterimakasihlah kepada temanmu yang sudah rela menjadi penguji. hehe

  • Durasi dan waktu pendakian

Selain hal-hal di atas, mandi tidaknya pendaki tergantung dengan lamanya waktu pendakian selama di gunung. Kalau cuma dua sampai tiga hari sih masih aman. Apalagi cuma tektok. Aman pooll. Sebagai tambahan, waktu di gunung adalah sangat berharga sehingga jika memang waktunya gak memungkinkan untuk mandi sedangkan hal itu tidak menjadi suatu problem buat kita, kenapa harus membuang waktu untuk mandi?. Beda lagi ceritanya kalau kamu emang memiliki waktu khusus untuk itu.

Sumber air panas segara anak Rinjani
foto by ejiebelula.wordpress.com

Saya pernah sih mandi sekali pas waktu di rinjani 7 hari 6 mlm. Tepatnya di sekitar danau segara anak. Di sana ada semacam air terjun kecil tapi airnya panas. Sebenarnya gak pengen mandi juga karena sehabis mandi air panas badan pasti terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tapi gara-gara penasaran aja “masak udah sampai sini gak ngrasain mandi di sini”. So ya udah mandi aja. Walaupun gak bau badan yaa.. 😁 .

Itulah alasan kenapa pendaki jarang banget atau bakan hampir gak pernah mandi kalau di gunung. Sekali lagi bukan karena malas, tapi emang ada faktor-faktor yang tidak memungkinkan untuk itu.

Trus kapan dong mandinya? Biasanya saat tiba di basecamp, pendaki istirahat sejenak untuk melepas lelah, makan, dan mandi (terutama yang domisili jauh dari basecamp sambil nunggu jemputan mungkin).

Jadi, kesimpulannya :

  • Badan gak bau
  • Dingin
  • Sumber air
  • Tidak boleh mandi di danau
  • Waktu yang berharga
  • Durasi pendakian

Semoga mengispirasi..

Salam lestari..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *