Peradaban paling terisolasi di dunia

suku andaman
suku sentinel
Andaman tribe fishing, c. 1870 Wikipedia

Kepulauan Andaman terletak di bagian utara Samudra Hindia di Teluk Benggala.Pulau Sentinel Utara, bagian dari kepulauan ini, terkenal karena di sini hidup ratusan orang yang membentuk suku pra-neolitik terakhir di dunia. Para Sentinel, sebagaimana mereka disebut anggota peradaban ini, mewakili suku paling terpencil di dunia.

Suku-suku Andaman

Kepulauan Andaman telah dihuni setidaknya 60.000–70.000 tahun yang lalu yang terjadi akibat Migrasi besar-besaran dari Afrika ke Timur oleh orang-orang dari India atau Burma sekitar 20.000 tahun sebelum Eropa dihuni. Selama ribuan tahun, masyarakat yang menghuni kepulauan ini tidak terganggu oleh pengaruh luar, yang mengarah pada pengembangan beberapa kelompok adat, termasuk Andaman Besar, Jarawa, Onge, Shompen, Jangil dan Sentinels.

People from the Sentinel Tribe (Source: Wikimedia Commons)
Suku Sentinel (Source: Wikimedia Commons)

Diperkirakan pada tahun 1789 ada 10.000 anggota kelompok Andaman Besar. Pada pertengahan abad ke-19, Inggris mengubah Kepulauan Andaman menjadi koloni penjara, menghilangkan penduduk setempat yang menentang kedatangan para penyusup. Andaman yang tidak diserang oleh Inggris meninggal karena tertular penyakit modern. Pada tahun 1901, jumlah orang Andaman telah berkurang menjadi 600 orang, dan pada tahun 1927 menjadi 100 orang. Sampai saat ini hanya 52 orang Andaman yang tersisa.

Banyak tahanan yang memutuskan untuk tetap tinggal di sini setelah menjalani masa hukuman. Selain itu, pulau-pulau dengan iklim tropis dan pantai berpasir putih menarik bagi banyak orang India yang dideportasi. Seiring berjalannya waktu, banyak pemukim dari India dan Burma juga bermukim di sini, yang juga berdampak pada penipisan suku-suku nusantara tersebut.

Suku Jangil telah menghilang pada awal abad ke-20, diikuti oleh Oko-Juwoi dan kemudian sebagian besar lainnya di kepulauan itu. Hal ini berbeda dengan suku Jarawa dan Sentinel. Mereka dengan keras menolak hubungan atau interaksi dengan dunia luar. Namun pada akhirnya suku Jarawa menerima kontak pada tahun 1998 yang mana keberadaanya sekarang terancam oleh campak, para turis asing, serta pemburu liar yang mencari makanan dengan memperluas pemukiman dan jalan yang dibangun oleh mereka yang tinggal di kepulauan itu.

Suku Sentinel

Orang-orang Suku Sentinel terus melakukan penjagaan agar tidak berinteraksi dengan orang asing. Karena alasan tersebut, mereka disebut-sebut sebagai salah satu populasi terakhir di dunia yang tidak tersentuh oleh peradaban modern.

suku sentinel dari kepulauan andaman
firmandwi.com
Sentinel tribesmen getting ready to attack (Source: Wikimedia Commons)
Suku Sentinel bersiap untuk menyerang (Source: Wikimedia Commons)

Peradaban sentinel secara teknologi berada dalam kategori stone age (zaman batu). Sentinel adalah satu-satunya populasi di Bumi yang mempertahankan gaya hidup paleolitik, mata pencaharian mereka bergantung pada panen, berburu, dan memancing. Menurut beberapa laporan, mereka dapat membersihkan kelapa dengan gigi dan ikan mereka dengan tombak dan busur dengan panah. Alat-alat ini juga digunakan untuk berburu babi hutan, kura-kura, dan siput yang hidup di pulau itu. Di sisi lain, pertanian adalah hal yang asing bagi mereka.

Orang-orang Sentinel juga membuat sampan yang mereka gunakan sebagai alat transportasi di perairan dangkal dekat pantai, namun sampan mereka tidak dilengkapi dengan dayung. Mereka mendorong sampan dengan menggunakan galah yang panjang. Bahasa mereka unik dan bahkan tidak menyerupai dengan apa yang digunakan di seluruh kepulauan Andaman. Selain hal tersebut, tidak ada yang diketahui tentang Suku Sentinel.

Populasi Sentinel Utara diperkirakan sekitar 50 hingga 400 orang, Jumlah secara akurat tidak dapat diperoleh karena penjagaan yang tidak ramah kepada pengunjung. Selain itu, sensus pada tahun 2001 yang dilakukan dari kejauhan oleh perwakilan dari pemerintah India, yang menjadi pemilik pulau tersebut. Hasil resmi yang dihitung terdapat 39 orang (21 pria dan 18 wanita), tetapi pihak berwenang mengakui bahwa mereka tidak mewakili pengukuran yang tepat dari populasi pulau yang mencakup 72 kilometer persegi.

Mencoba melakukan kontak

Sentinel ditemukan pada tahun 1771, ketika seorang navigator di kapal penelitian Inggris melaporkan bahwa pada malam itu pulau ini menunjukkan adanya penghuni. Kapal tersebut tidak berhenti untuk mengamati lebih jauh, tetapi dalam buku catatan tersebut menyebutkan tentang populasi Sentinel Utara untuk pertama kalinya.

Setelah hampir satu abad, yaitu pada tahun 1867, kapal dagang India Niniveh menabrak karang di dekat pulau yang mengakibatkan 86 penumpang dan 20 awak kapal berhasil selamat dengan menggunakan sekoci untuk mencapai pulau itu. Pada pagi hari ketiga, mereka tiba-tiba diserang.

Kapten kapal Niniveh melarikan diri di kapal rescue dan berhasil selamat, diselamatkan beberapa hari kemudian dengan sebuah kapal yang melewati daerah itu. Dia kemudian melaporkan bahwa “mereka benar-benar telanjang, dengan rambut pendek dan hidung dicat merah, dan panah mereka memiliki logam pada bagian ujungnya.” Kemungkinan besar, para Sentinel menemukan sisa-sisa logam dari kapal yang karam di dekatnya, sebuah perilaku yang diamati bahkan sampai hari ini. Setelah beberapa hari, sebuah kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris menemukan orang-orang yang selamat dari pulau itu, yang berhasil mengusir penduduk setempat.

Pada tahun 1896, seorang tahanan asal India yang sedang menjalani hukumannya di penjara di Pulau Andaman Besar berhasil melarikan diri dengan bentuan rakit yang telah ia modifikasi. Perahunya terombang-ambing melintasi sekitar 50 mil ke Pulau Sentinel Utara dan terhenti di garis pantainya. Tim dari pihak penjara yang ditugaskan untuk mencarinya akhirnya menemukan mayat tahanan tersebut di pantai pulau setelah tiga hari berselang dengan kodisi yang mengenaskan, lehernya terputus dan di sekujur tubuhnya tampak bekas tusukan panah.

Akibat dari kejadian ini, orang-orang suku Sentinel tidak diganggu orang luar lebih dari setengah abad.

Anthropologist Triloki Nath Pandit (Source: Wikimedia Commons)
firmandwi.com
Antropolog Triloki Nath Pandit (Source: Wikimedia Commons)

Pada tahun 1967, 20 tahun setelah pengambil alihan kepulauan Andaman yaitu setelah kemerdekaan, pemerintah India melakukan upaya pertama untuk melakukan kontak dengan suku Sentinel. Ekspedisi yang dipimpin oleh antropolog Triloki Nath Pandit tiba di pulau itu, meninggalkan beberapa buah kelapa di pantai, tetapi sia-sia – para suku Sentinel bersembunyi di hutan. Para peneliti mencoba lagi untuk melakukan kontak dengan mereka pada tahun 1970 dan 1973, namun kedua upaya tersebut para peneliti justru disambut dengan anak panah.

Pada tahun 1974, Pandit memulai ekspedisi lagi yang mana kali ini dengan para kru film dengan mencoba membangun koneksi dengan suku Sentinel. Dia membawakan mereka beberapa hadiah, beberapa buah, mainan, dan bahkan seekor babi. Usahanya ditolak, salah satu anggota kru film malah terkena anak panah pada pahanya.

Para Antropolog masih belum menyerah dengan berusaha memberikan mereka kelapa yang mana buah tersebut tidak ditemukan di pulau itu. Seiring berjalannya waktu, upayanya pun mendapatkan hasil. Pada tanggal 4 Januari 1991, setelah 24 tahun lamanya, ekspedisi yang dipimpin Pandit berhasil bertemu dengan 28 orang suku Sentinel yang tidak bersejata. Ia adalah satu-satunya Antropolog yang berhasil memasuki budaya suku Sentinel, dan memecahkan banyak mitos menurut orang Inggris dan India yang telah menjajah kepulauan Andaman tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *